Gimana Cara Ngajarin Anak Biar Nggak Gampang Ikut-ikutan Tren yang Kurang Baik di Sekolah?
“Ma, beliin aku sepatu merk X dong, semua temanku pakai itu!”
“Yah, boleh nggak aku ikut challenge ini di TikTok? Teman sekelas udah bikin semua.”
Pernahkah Anda merasa lelah mengejar tren yang dibawa anak dari sekolah? Mulai dari demam mainan lato-lato, bahasa gaul yang aneh-aneh (seperti “Skibidi” atau “Rizz”), hingga tren yang membahayakan fisik seperti challenge menahan napas atau mencegat truk.
Di era digital ini, arus informasi bergerak secepat kilat. Sekolah bukan lagi sekadar tempat belajar matematika, tapi juga menjadi “pasar” pertukaran tren. Bagi anak-anak, mengikuti tren adalah cara instan untuk merasa diterima (sense of belonging).
Masalahnya, tidak semua tren itu positif. Banyak tren yang justru konyol, boros, bahkan berbahaya. Sebagai orang tua, kita sering merasa cemas: “Duh, takut banget anakku terjerumus pergaulan yang salah.”
Namun, melarang dengan keras “Jangan ikut-ikutan!” biasanya tidak mempan. Semakin dilarang, semakin penasaran mereka.
Lantas, bagaimana caranya menanamkan “rem pakem” di dalam diri anak agar mereka punya prinsip sendiri dan tidak mudah terbawa arus? Simak strategi psikologis berikut ini.
1. Pahami Dulu Kenapa Mereka Ikut-ikutan (FOMO)
Sebelum memarahi, kita harus paham isi kepala mereka. Di usia sekolah (terutama remaja awal), bagian otak yang mengatur hubungan sosial sedang aktif-aktifnya.
Ketakutan terbesar mereka bukanlah “dimarahi orang tua”, melainkan dikucilkan teman.
Ada istilah FOMO (Fear of Missing Out) atau takut ketinggalan zaman.
Jika semua teman sekelas melakukan A dan anak Anda tidak, mereka merasa terasing. Jadi, ketika mereka ikut-ikutan tren konyol, itu bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka ingin bertahan hidup secara sosial. Validasi perasaan ini dulu: “Oh, jadi itu lagi ngetren ya? Pasti rasanya nggak enak ya kalau nggak ikutan sendiri.”
2. Aktifkan “Otak Kritis” Lewat Pertanyaan
Alih-alih langsung menghakimi “Itu jelek! Itu bahaya!”, ajak anak untuk membedah tren tersebut menggunakan logika mereka sendiri. Jadilah fasilitator, bukan diktator.
Gunakan teknik bertanya Socratic Method:
- “Menurut Kakak, kenapa sih teman-teman suka banget challenge itu?”
- “Kira-kira ada nggak risiko bahayanya kalau gagal?”
- “Kalau Kakak ikutan, untungnya buat Kakak apa? Kalau nggak ikutan, ruginya apa?”
Biarkan mereka yang menyimpulkan sendiri: “Iya juga sih Ma, sebenarnya bahaya kalau jatuh.”
Kesimpulan yang keluar dari mulut mereka sendiri akan tertanam lebih kuat daripada nasihat yang keluar dari mulut Anda.
3. Ajarkan Seni Berkata “Tidak” (Role Play)
Banyak anak ikut-ikutan tren buruk hanya karena mereka tidak enak menolak ajakan teman. Mereka bingung harus ngomong apa saat dipaksa.
Latih mereka di rumah. Berikan naskah (script) untuk menolak dengan keren tanpa terlihat “cupu”.
Opsi Jawaban Santai:
- “Nggak ah, mager (malas gerak) nih.”
- “Skip dulu deh, lagi nggak mood.”
Opsi “Kambing Hitamkan Orang Tua” (The Strict Parent Card):
Izinkan anak menggunakan nama Anda sebagai tameng. Ini sangat ampuh.
- “Waduh sorry, nyokap gue galak banget. Kalau ketahuan bisa disita HP gue sebulan. Nggak berani ambil risiko deh.”
Teman-temannya biasanya akan lebih memaklumi alasan “orang tua galak” daripada alasan moral. Ini melindungi harga diri anak di depan teman-temannya.
4. Bangun Rasa Percaya Diri di Rumah (Self-Worth)
Ini adalah pondasi terpenting. Anak yang mudah ikut-ikutan biasanya adalah anak yang haus validasi atau merasa insecure. Mereka mencari pengakuan di luar karena merasa kurang di rumah.
Jika “tangki cinta” dan “tangki harga diri” mereka sudah penuh di rumah, mereka tidak akan terlalu peduli dengan pengakuan teman-temannya.
- Puji keunikan mereka: “Ayah suka banget gaya kamu yang beda dari yang lain.”
- Dukung hobi spesifik mereka (musik, gambar, olahraga) agar mereka punya identitas diri yang kuat.
Anak yang punya identitas kuat akan berpikir: “Aku jago basket, aku nggak perlu ikut challenge konyol itu biar dibilang keren.”
5. Jadilah “Pelabuhan Aman” Saat Mereka Curhat
Seringkali anak menyembunyikan tren buruk karena takut reaksi orang tua.
“Kalau aku cerita ada teman yang ngerokok vape, pasti Mama langsung ceramah 2 jam dan melarang aku main sama dia.”
Akhirnya anak menutup diri.
Cobalah bersikap tenang (stay cool) saat anak menceritakan hal-hal negatif yang terjadi di sekolahnya.
- Anak: “Ma, si Budi tadi bawa majalah dewasa ke kelas.”
- Respon Salah: “Hah?! Siapa Budi? Jauhi dia! Jangan main sama dia!”
- Respon Benar: “Waduh, nekat juga ya si Budi. Terus reaksi teman-teman lain gimana? Terus menurut kamu gimana?”
Jika Anda tenang, anak akan menjadikan Anda tempat diskusi utama. Anda bisa memasukkan nilai-nilai moral secara halus lewat diskusi tersebut.
6. Berikan Contoh “Berbeda Itu Keren”
Anak adalah peniru ulung. Apakah Anda sendiri sering ikut-ikutan tren belanja atau gaya hidup tetangga?
“Eh Jeng Susi beli panci baru, Mama juga harus beli nih.”
Jika Anda sendiri FOMO, anak akan menirunya. Tunjukkan pada anak bahwa Anda nyaman menjadi diri sendiri.
Ceritakan pengalaman Anda: “Dulu waktu Papa SMA, semua teman Papa bolos rame-rame. Papa nggak ikutan, Papa diam aja di perpustakaan. Awalnya dibilang nggak asik, tapi akhirnya Papa malah jadi ketua OSIS.”
Tunjukkan bahwa memiliki prinsip (integrity) itu jauh lebih keren daripada sekadar menjadi pengikut (follower).
7. Kenalkan Konsep “Jejak Digital” (Untuk Tren Online)
Untuk tren yang berhubungan dengan media sosial, ingatkan anak tentang masa depan.
Jelaskan dengan bahasa simpel:
“Internet itu nggak punya penghapus, Kak. Sekali Kakak posting video joget-joget yang kurang sopan atau challenge berbahaya, itu akan tersimpan selamanya. Nanti kalau Kakak sudah besar mau kerja atau mau jadi orang sukses, video itu bisa muncul lagi dan bikin malu.”
Kesadaran tentang reputasi jangka panjang bisa menjadi rem yang pakem bagi remaja.
Kesimpulan: Ini Marathon, Bukan Lari Sprint
Mengajarkan anak untuk tidak mudah terbawa arus bukanlah pekerjaan satu malam. Ini adalah proses diskusi panjang yang harus dipupuk setiap hari.
Akan ada masanya mereka tergelincir dan ikut-ikutan tren yang salah. Itu wajar. Jangan langsung cap mereka sebagai “anak nakal”. Jadikan itu momen pembelajaran.
Tujuan kita bukan mengurung mereka dari dunia luar, tapi membekali mereka dengan kompas internal. Sehingga di manapun mereka berada, sekeras apapun angin tren bertiup, mereka akan tetap berdiri tegak di atas prinsip mereka sendiri.
Semangat menjadi influencer terbaik bagi anak-anak Anda, Parents!





