Tips Biar Anak Nggak Hobi Teriak-Teriak Kalau Lagi Pengen Sesuatu di Tempat Umum (Panduan Lengkap Anti-Drama)
Intro: Sirine Berjalan di Lorong Supermarket
Bayangkan skenarionya: Anda sedang mendorong troli di lorong supermarket yang tenang. Daftar belanjaan sudah hampir terpenuhi. Tiba-tiba, mata si Kecil menangkap sesuatu. Sebuah cokelat dengan bungkus kartun favoritnya, atau mainan plastik murah yang dipajang strategis di dekat kasir.
“Ma! Mau ituuu!”
Anda menjawab dengan tenang, “Nggak ya Dek, kita nggak beli mainan hari ini.”
Detik berikutnya, kedamaian hancur.
“MAUUUU! BELIIIIIN! SEKARAAAAANG!”
Suara lengkingan itu memecah udara, frekuensinya mungkin bisa memecahkan gelas kaca. Pengunjung lain menoleh. Ada yang menatap kaget, ada yang menggeleng prihatin, dan ada pula tatapan menghakimi yang seolah berkata, “Duh, itu anaknya nggak diajarin sopan santun ya?”
Wajah Anda memanas. Jantung berdegup kencang. Di satu sisi, Anda ingin membungkam mulut anak agar tidak malu. Di sisi lain, Anda ingin segera membelikan barang itu supaya dia diam. Tapi hati kecil Anda tahu, jika dibelikan, Anda kalah.
Anak yang hobi berteriak di tempat umum saat menginginkan sesuatu adalah salah satu tantangan terbesar orang tua. Ini bukan sekadar masalah kebisingan; ini adalah ujian mental, kesabaran, dan konsistensi pola asuh di bawah tekanan sosial.
Apakah anak Anda “nakal”? Tidak. Apakah Anda orang tua yang gagal? Sama sekali tidak.
Artikel ini akan membedah tuntas fenomena “Sirine Berjalan” ini. Kita akan menggali alasan psikologis di baliknya, strategi pencegahan sebelum keluar rumah, hingga teknik “Ninja” untuk mematikan teriakan tanpa kekerasan.
Siapkan kopi Anda, tarik napas panjang, dan mari kita pelajari cara mengubah si Kecil dari “Penyanyi Rock” menjadi komunikator yang santun.
Daftar Isi
- Mengupas Bawang: Kenapa Anak Memilih Berteriak? (Psikologi di Balik Volume)
- Kesalahan Umum Orang Tua yang Justru “Melatih” Anak Berteriak
- Persiapan Pra-Keberangkatan: Mencegah Kebakaran Sebelum Terjadi
- Teknik “The Whisper”: Cara Ajaib Menurunkan Volume Suara Anak
- Seni Menolak Permintaan Tanpa Memicu Perang Dunia
- Mengelola Tekanan Sosial: Cara Tetap Tenang Saat Ditatap Orang
- Latihan di Rumah: Mengajarkan Konsep “Indoor Voice” vs “Outdoor Voice”
- Konsistensi: Mengapa “Sekali Saja Boleh” Adalah Jebakan Batman
- Mengajari Bahasa Isyarat dan Kode Rahasia Keluarga
- Kesimpulan: Ini Proses Maraton, Bukan Lari Sprint
1. Mengupas Bawang: Kenapa Anak Memilih Berteriak? (Psikologi di Balik Volume)
Sebelum kita masuk ke solusi, kita harus paham akar masalahnya. Menganggap anak berteriak hanya karena “nakal” atau “manipulatif” adalah penyederhanaan yang berbahaya.
Anak-anak, terutama usia balita hingga awal sekolah dasar (2-7 tahun), memiliki alasan biologis dan psikologis mengapa volume suara mereka sering offside.
A. Keterbatasan Kosa Kata (Verbal Frustration)
Bayangkan Anda sedang di negara asing, Anda lapar, tapi Anda tidak bisa bahasa setempat. Penduduk lokal tidak mengerti isyarat Anda. Apa yang Anda rasakan? Frustrasi. Mungkin Anda akan meninggikan suara agar dimengerti.
Anak sering kali tahu apa yang mereka mau (desire), tapi otak mereka belum menemukan kata-kata yang tepat untuk bernegosiasi (negotiation skill). Teriakan adalah jalan pintas komunikasi: “Aku butuh perhatianmu SEKARANG!”
B. Kontrol Impuls yang Belum Matang
Bagian otak yang bertugas mengerem keinginan dan emosi adalah Prefrontal Cortex. Pada anak-anak, bagian ini masih dalam tahap konstruksi (dan baru matang sepenuhnya di usia 25 tahun!).
Ketika mereka melihat mainan, Amigdala (pusat emosi) berteriak “MAU!”, dan rem di Prefrontal Cortex belum pakem. Hasilnya? Teriakan impulsif. Mereka tidak merencanakan untuk mempermalukan Anda; mereka hanya gagal mengerem dorongan hati.
C. Overstimulasi Sensorik
Tempat umum seperti mall atau supermarket adalah “neraka” sensorik bagi sebagian anak. Lampu terang, musik latar yang bising, kerumunan orang, dan ribuan produk warna-warni.
Otak anak mengalami overload. Teriakan kadang bukan karena mereka menginginkan barang, tapi cara mereka melepaskan ketegangan saraf (nervous system discharge).
D. Eksperimen Sebab-Akibat
Anak adalah ilmuwan kecil. Mereka sedang menguji hipotesis:
- Hipotesis: “Kalau aku minta pelan-pelan, Ibu bilang nggak.”
- Eksperimen: “Kalau aku teriak kencang sampai orang-orang nengok, apakah Ibu akan berubah pikiran?”
Jika sekali saja eksperimen ini berhasil (Anda membelikan barangnya agar dia diam), maka hipotesis itu terbukti benar. Dan mereka akan mengulanginya.
2. Kesalahan Umum Orang Tua yang Justru “Melatih” Anak Berteriak
Tanpa sadar, respon kita sebagai orang tua seringkali justru memperkuat perilaku berteriak ini. Cek apakah Anda pernah melakukan ini:
Respon “Adu Teriak”
Anak: “MAUUU ES KRIIIM!” (Volume 80 dB)
Orang Tua: “JANGAN TERIAK-TERIAK! MALU DILIHAT ORANG!” (Volume 90 dB)
Ini ironis. Kita menyuruh anak diam dengan cara berteriak. Pesan yang ditangkap anak adalah: “Oh, kalau mau didengar di keluarga ini, caranya adalah siapa yang suaranya paling keras.” Anda sedang mencontohkan perilaku yang justru ingin Anda hilangkan.
Respon “Sogokan Panik”
Karena malu dilihat orang, Anda berbisik: “Iya iya, Mama beliin, tapi diam ya!”
Selamat, Anda baru saja mengajarkan anak sebuah rumus bisnis: Teriakan = Hadiah.
Dalam psikologi perilaku, ini disebut Positive Reinforcement (Penguatan Positif) terhadap perilaku negatif. Besok, dia akan berteriak lebih keras dan lebih lama.
Mengabaikan Saat Anak Bicara Pelan
Seringkali, saat anak bicara sopan, kita sibuk main HP atau ngobrol dengan teman. Kita baru menoleh saat mereka berteriak.
Anak belajar: “Suara pelan tidak didengar. Suara keras baru didengar.”
Jadi, teriak adalah strategi bertahan hidup untuk mendapatkan atensi Anda.
3. Persiapan Pra-Keberangkatan: Mencegah Kebakaran Sebelum Terjadi
Perang memadamkan teriakan sebenarnya dimenangkan sebelum Anda keluar dari pintu rumah. Persiapan yang matang bisa mengurangi risiko drama hingga 70%.
A. Cek Tangki Fisik (HALT)
Jangan pernah bawa anak ke tempat umum jika mereka:
- Hungry (Lapar)
- Angry (Marah/Bad mood dari rumah)
- Lonely (Kurang koneksi dengan Anda)
- Tired (Lelah/Mengantuk)
Anak yang lapar atau ngantuk memiliki sumbu kesabaran setipis tisu. Pastikan perut kenyang dan jam tidur aman sebelum berangkat.
B. Briefing (Manajemen Ekspektasi)
Jelaskan misi Anda secara detail. Ketidakpastian membuat anak cemas, dan kecemasan memicu perilaku buruk.
- Script: “Adik, kita mau ke Supermarket. Misi kita hari ini cuma beli susu, telur, dan sabun. Kita TIDAK beli mainan atau cokelat hari ini. Kalau Adik minta mainan, jawaban Bunda pasti ‘Tidak’. Adik siap?”
Minta anak mengulang aturan itu: “Tadi Bunda bilang kita beli mainan nggak?”
C. Berikan Tugas (Job Description)
Anak berteriak minta mainan seringkali karena mereka bosan. Libatkan mereka agar mereka merasa punya peran penting.
- “Adik tugasnya jadi Detektif Telur. Nanti cari di mana telurnya ya.”
- “Kakak tugasnya pegang daftar belanjaan dan coret yang sudah masuk keranjang.”
Anak yang sibuk bekerja tidak punya waktu untuk berteriak minta mainan.
D. The “Yes” List
Anak suka membayangkan keinginan. Bawa buku catatan kecil. Katakan:
“Kita nggak beli mainan hari ini. Tapi kalau kamu lihat mainan yang kamu suka, kita foto atau kita catat di ‘Buku Keinginan’ ya. Nanti bisa kita lihat lagi pas ulang tahun.”
Ini memvalidasi keinginan mereka tanpa harus membelinya.
4. Teknik “The Whisper”: Cara Ajaib Menurunkan Volume Suara Anak
Oke, persiapan sudah dilakukan, tapi anak tetap berteriak di tengah toko buku. Apa yang harus dilakukan saat itu juga?
Gunakan teknik “The Whisper” (Bisikan).
Cara Kerjanya:
Saat anak menaikkan volume suaranya, insting kita adalah menaikkan suara kita agar terdengar. Lawan insting itu. Turunkan suara Anda drastis, sampai level berbisik.
- Turunkan Tubuh (Leveling): Berjongkoklah. Sejajarkan mata Anda dengan mata anak. Ini menghilangkan intimidasi dan membangun koneksi.
- Kontak Mata: Tatap matanya dengan lembut tapi tegas.
- Berbisik: Dekatkan mulut ke telinganya dan katakan dengan sangat pelan: “Suara Adik terlalu keras, telinga Bunda sakit. Bunda nggak bisa paham kalau Adik teriak. Coba bisikin ke Bunda, Adik mau apa?”
Kenapa ini efektif?
- Curiosity: Anak akan penasaran dengan apa yang Anda bisikkan, sehingga mereka otomatis diam untuk mendengar.
- Mirroring: Manusia punya mirror neurons (saraf cermin). Jika Anda tenang dan pelan, sistem saraf anak perlahan akan meniru ketenangan Anda (co-regulation).
- Privasi: Ini menjaga percakapan tetap privat, sehingga Anda tidak perlu merasa malu ditonton orang.
5. Seni Menolak Permintaan Tanpa Memicu Perang Dunia
Seringkali teriakan muncul karena respon penolakan kita yang terlalu kasar atau mendadak. Ada cara bilang “Nggak” yang lebih bisa diterima otak anak.
Hindari Kata “JANGAN” atau “GAK BOLEH” di Awal
Kata “Jangan” memicu resistensi otak.
- Salah: “Gak boleh! Mahal!” (Memicu debat).
- Benar: “Bunda dengar kamu mau robot itu.” (Validasi dulu).
Rumus: Validasi + Batasan + Alternatif (VBA)
- Validasi: Akui keinginannya. Anak ingin merasa dipahami.
“Wah, mobil-mobilannya keren banget ya. Warnanya merah, kesukaan Adik.” (Biasanya anak akan tenang karena merasa Anda satu frekuensi). - Batasan: Jelaskan aturan dengan netral.
“Tapi hari ini tidak ada di daftar belanja kita.” (Gunakan kata “tidak ada di daftar”, seolah-olah daftar belanja adalah bosnya, bukan Anda yang pelit). - Alternatif (Empowering): Beri pilihan yang Anda setujui.
“Kita nggak beli mobilan, tapi pas pulang nanti kita bisa main mobil-mobilan yang di rumah atau main lego. Adik pilih mana?”
Teknik “Wunschtraum” (Berandai-andai dalam Fantasi)
Kadang anak cuma butuh keinginannya diakui dalam imajinasi.
Anak: “Mau permen raksasa ituuu!”
Ibu: “Wuih, gede banget ya. Enak kali ya kalau kita punya permen segede rumah, bisa buat atap rumah kita. Nanti semut pada datang dong?”
Mengajak anak berimajinasi seringkali cukup memuaskan rasa ingin mereka dan mengalihkan fokus dari membeli menjadi bermain cerita.
6. Mengelola Tekanan Sosial: Cara Tetap Tenang Saat Ditatap Orang
Musuh terbesar saat anak tantrum dan teriak di umum bukanlah si anak, melainkan Ego Orang Tua.
Kita merasa tatapan orang lain adalah rapor merah bagi kita.
“Duh, orang-orang mikir aku ibu yang nggak becus.”
“Tuh kan, ibu-ibu di sana bisik-bisik.”
Mantra Mental: “The Spotlight Effect”
Ingatlah teori psikologi The Spotlight Effect: Kita cenderung melebih-lebihkan seberapa besar perhatian orang lain pada kita.
Kenyataannya:
- 50% orang di sana tidak peduli.
- 30% orang di sana adalah sesama orang tua yang menatap dengan rasa empati (“Sabar ya Bu, saya pernah di posisi itu”).
- 20% mungkin menghakimi, tapi mereka adalah orang asing yang tidak akan Anda temui lagi. Apakah opini mereka penting? Tidak.
Prioritaskan Anak, Bukan Penonton
Ubah mindset: “Tugas saya saat ini adalah membantu anak saya yang sedang kesulitan mengelola emosi, BUKAN menghibur penonton di mall ini.”
Jika ada orang yang menatap sinis atau berkomentar nyinyir, siapkan Skrip Mental:
- (Senyum tipis) “Sedang belajar regulasi emosi nih, Pak/Bu. Doakan ya.”
- Atau abaikan saja. Fokus total pada mata anak Anda. Buat “gelembung” imajiner yang memisahkan Anda dan anak dari dunia luar.
7. Latihan di Rumah: Mengajarkan Konsep “Indoor Voice” vs “Outdoor Voice”
Anak tidak akan bisa mengatur volume suara di mall jika tidak pernah dilatih di rumah. Gunakan permainan (gamifikasi) untuk mengajarkan konsep volume.
Game “Remote Control Manusia”
- Buat remote control pura-pura dari kardus.
- Tombol 1: Diam (Mute).
- Tombol 2: Bisik-bisik (Whisper).
- Tombol 3: Suara Ngobrol (Indoor Voice).
- Tombol 4: Suara Pidato.
- Tombol 5: Teriak (Outdoor Voice – hanya boleh di lapangan).
Ajak anak main tekan tombol. “Coba Ayah tekan tombol 2. Ayo ngomong pakai suara tombol 2.”
Saat di mall, Anda tinggal bilang: “Kak, ini tempat ‘Indoor’, tolong pakai suara level 3 ya.”
Game “Detektif Suara”
Di rumah, ajak anak mendengar suara-suara halus. “Sstt.. coba dengar suara kulkas bunyi ngguuung. Coba dengar suara burung.”
Latihan ini melatih kepekaan telinga mereka dan membiasakan mereka untuk hening.
Definisi Tempat
Jelaskan perbedaan tempat:
- Outdoor (Taman, Lapangan): Boleh teriak sepuasnya. Lepaskan energi di sini.
- Indoor (Perpus, Mall, Restoran): Suara harus “disimpan” di dalam mulut. Hanya orang di sebelah kita yang boleh dengar.
8. Konsistensi: Mengapa “Sekali Saja Boleh” Adalah Jebakan Batman
Ini adalah bagian tersulit. Anda lelah, malu, dan ingin segera pulang. Anak berteriak minta permen. Anda tergoda untuk bilang: “Ya udah, kali ini aja ya! Tapi janji besok nggak lagi!”
JANGAN LAKUKAN ITU.
The Slot Machine Effect (Efek Mesin Judi)
Jika Anda konsisten bilang “Tidak”, anak akan berhenti mencoba.
Jika Anda selalu bilang “Ya”, anak tidak akan teriak (tapi jadi manja).
TAPI, jika Anda kadang bilang “Tidak” dan kadang bilang “Ya” (karena nggak tahan denger teriakannya), Anda menciptakan Intermittent Reinforcement (Penguatan Berkala). Ini adalah prinsip yang sama yang membuat orang kecanduan judi slot.
Anak berpikir: “Kemarin aku teriak 5 menit, Ibu nggak kasih. Pas aku teriak 15 menit, Ibu kasih. Berarti hari ini aku harus teriak lebih lama biar dapet Jackpot!”
Ketidakkonsistenan Anda adalah bahan bakar teriakan mereka.
Jika Anda bilang “Tidak”, itu harus berarti “Tidak”, meskipun langit runtuh, meskipun orang satu mall menatap Anda.
Jika anak sadar bahwa teriakan tidak pernah menghasilkan barang, perilaku itu akan hilang dengan sendirinya (proses ini disebut Extinction).
9. Mengajari Bahasa Isyarat dan Kode Rahasia Keluarga
Terkadang, anak berteriak karena mereka tidak bisa menyela obrolan Anda, atau ingin menyampaikan sesuatu yang urgent (seperti kebelet pipis) tapi Anda tidak dengar.
Buat Kode Rahasia Keluarga:
- Remasan Tangan: Jika anak meremas tangan Anda 2 kali, artinya “Bunda, aku mau ngomong penting/aku mulai nggak nyaman.”
- Menyentuh Siku: Ajarkan anak untuk menyentuh siku atau pergelangan tangan Anda jika ingin menyela pembicaraan, alih-alih berteriak “Bunda!! Dengerin aku!”
Saat mereka menggunakan kode ini, respon segera.
“Eh, Kakak pegang siku Bunda. Sebentar ya Tante, Kakak mau bicara.”
Jika respon Anda cepat saat mereka sopan, mereka tidak perlu menggunakan “senjata” teriakan.
10. Kesimpulan: Ini Proses Maraton, Bukan Lari Sprint
Mengubah kebiasaan anak berteriak tidak bisa terjadi dalam semalam. Akan ada hari-hari di mana Anda berhasil, dan ada hari di mana Anda (dan anak) kelelahan lalu gagal. Itu wajar.
Ingat poin-poin kuncinya:
- Pahami: Mereka berteriak karena belum bisa komunikasi canggih, bukan karena jahat.
- Cegah: Pastikan perut kenyang dan briefing aturan sebelum berangkat.
- Tenang: Gunakan teknik berbisik, jangan adu teriak.
- Tegas: Jangan memberi hadiah pada teriakan.
- Validasi: Akui keinginan mereka, tapi tetap pada batasan.
Setiap kali Anda menahan diri untuk tidak membelikan mainan saat anak berteriak, Anda sedang menanamkan investasi jangka panjang. Anda sedang mengajarkan anak tentang regulasi diri, kesabaran, dan sopan santun.
Jadi, lain kali si Kecil menyalakan “sirine”-nya di tempat umum: Tarik napas, jongkok, tatap matanya, dan ingat bahwa Anda adalah nahkoda kapal ini. Anda yang pegang kendali, bukan badai teriakannya.
Semangat, Parents! Anda bisa melewati fase ini.
Bonus Tips: Skenario Cepat (Cheat Sheet)
- Skenario: Anak teriak karena bosan antre di kasir.
- Solusi: Alihkan fokus. “Coba hitung ada berapa orang yang pakai baju merah di antrean ini?”
- Skenario: Anak teriak karena minta jajan padahal baru makan.
- Solusi: Tawarkan minum. “Mungkin tenggorokanmu kering. Minum air putih dulu yuk. Jajannya nanti pas jam ngemil sore di rumah.”
- Skenario: Anak teriak karena tidak mau pulang dari tempat main.
- Solusi: Beri peringatan transisi. “5 menit lagi kita pulang. Sekarang pilih, mau main perosotan terakhir atau ayunan terakhir?”





